
Mijen ˗ Perpustakaan sering kali dipersepsikan sebagai sudut sekolah yang sunyi, kaku, dan penuh dengan aturan ketat untuk menjaga ketenangan. Deretan rak buku yang tinggi dan aroma tumpukan buku terkadang membuat sebagian siswa enggan melangkah masuk. Namun, atmosfer yang sepenuhnya berbeda terasa di Perpustakaan Widya Wacana SMA Negeri 1 Mijen Demak pada Kamis, 20 Agustus 2026 lalu. Suasana ceria menyelimuti ruangan dengan riuh rendah tawa dan antusiasme para hadirin. Ruang baca perpustakaan tersebut sukses disulap menjadi sebuah bioskop mini yang hangat dalam agenda kreatif bertajuk “Movie Day” Kegiatan Pemutaran Film Edukatif.
Ide pelaksanaan Movie Day ini lahir dari sebuah refleksi sederhana Kepala Perpustakaan Widya Wacana SMA Negeri 1 Mijen Demak, Ibu Rias Arimukti Kaiden Wilujeng, S.Pd., M.Pd: bagaimana cara mendekatkan literasi kepada generasi muda yang sangat akrab dengan dunia visual? Jawabannya adalah melalui literasi audiovisual. Film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, melainkan sebuah karya seni yang kaya akan pesan moral, sejarah, dan nilai-nilai kehidupan. Dengan mengemas penayangan film di dalam perpustakaan, sekolah ingin menanamkan pesan kuat bahwa perpustakaan adalah ruang publik yang inklusif, menyenangkan, dan pusat dari segala jenis sumber ilmu pengetahuan. Kegiatan ini didukung penuh oleh Kepala SMA Negeri 1 Mijen Demak, Ibu Mustaqimah, S.Pd., M.Pd. Beliau memberi apresiasi tinggi terhadap inovasi-inovasi yang selalu hadir di Perpustakaan Widya Wacana guna meningkatkan literasi warga sekolah.
Persiapan matang telah dilakukan beberapa pekan sebelum hari pelaksanaan. Pengelola perpustakaan bekerja keras mengubah tata letak ruangan. Meja-meja belajar besar digeser ke tepi, memberikan ruang lapang di bagian tengah yang kemudian dihampari karpet-karpet empuk. Sebuah Televisi Digital berukuran besar dipasang di barisan depan, lengkap dengan sistem pengeras suara yang disetel sedemikian rupa agar tidak menggema keluar ruangan. Tirai-tirai jendela ditutup rapat untuk menciptakan efek bioskop yang redup, nyaman, dan dramatis.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari ini dikonsep secara eksklusif dengan menghadirkan sekitar 75 orang tamu undangan. Komposisi hadirin dirancang secara kolaboratif, mencakup bapak dan ibu guru serta tenaga kependidikan, perwakilan murid dari tiap-tiap kelas, serta perwakilan organisasi sekolah seperti OSIS, Pramuka, PMR, Rohis, PIK, Duta Baca, dan Mas Mbak SMA Negeri 1 Mijen Demak yang aktif menggerakkan roda kegiatan siswa. Menariknya, Perpustakaan Widya Wacana SMA Negeri 1 Mijen Demak juga memperluas esensi kebersamaan ini dengan turut mengundang tamu undangan dari SLTA terdekat. Kehadiran rekan-rekan antarsekolah ini tidak hanya menjadi ajang rekreasi bersama, tetapi juga menjadi ruang studi banding dan silaturahmi yang produktif untuk mempererat jejaring literasi di wilayah Mijen dan sekitarnya. Pengawas Cabang Dinas Wilayah 1 Provinsi Jawa Tengah, Bapak Setyo Nugroho, S.Pd., M.Pd. juga turut hadir dalam kegiatan Movie Day ini. Beliau bangga dengan gagasan-gagasan yang terus muncul di Perpustakaan Widya Wacana SMA Negeri 1 Mijen Demak. Utamanya kegiatan Movie Day ini yang belum pernah beliau temui di sekolah-sekolah lain yang menjadi binaannya.
Film yang dipilih untuk mengisi agenda kali ini adalah “Sang Pemimpi”, sebuah karya sinematik luar biasa yang mengisahkan masa-masa remaja SMA penuh perjuangan, persahabatan, dan keberanian merajut mimpi hingga ke Eropa. Kisah hidup Ikal, Arai, dan Jimbron dalam film ini terasa sangat dekat dengan kehidupan para siswa, membuat emosi para penonton di dalam ruangan tampak hanyut sepenuhnya ke dalam alur cerita. Ruangan sesekali dipenuhi gelak tawa saat adegan kenakalan remaja yang jenaka muncul, dan mendadak hening ketika konflik cerita serta perjuangan keras mereka mencapai puncaknya. Tidak jarang, terlihat beberapa siswa dan guru pendamping menyeka air mata karena terharu oleh tekad kuat para tokohnya.
Daya tarik utama dari kegiatan Movie Day ini bukan hanya pada pemutaran filmnya saja, melainkan pada sesi diskusi interaktif setelah lampu ruangan kembali dinyalakan. Dipandu oleh salah seorang pustakawan Ibu Irawati Puji Lestari, S.Pd. dan Ibu Engklin Arum Tsani, S.Pd., para siswa serta tamu undangan diajak untuk membedah karakter tokoh seperti Arai yang selalu optimis, menganalisis konflik masa muda, dan merumuskan pesan moral tentang pentingnya memiliki cita-cita setinggi langit.
Sesi ini berlangsung sangat dinamis. Banyak siswa dari dalam maupun perwakilan sekolah undangan berebut mengacungkan jari untuk menyampaikan pendapat kritis mereka. Indra, salah satu siswa kelas XII SMA Negeri 1 Mijen Demak yang hadir, mengungkapkan kesannya dengan penuh semangat, “Seru sekali! Menonton Sang Pemimpi bersama teman-teman dan perwakilan sekolah lain memberikan tamparan positif bagi kami. Menjadi anak SMA di daerah bukan alasan untuk takut bermimpi besar. Kami jadi makin termotivasi untuk mengejar dan mewujudkan mimpi-mimpi Kami.”
Apresiasi senada juga datang dari guru pendamping dan perwakilan sekolah sekitar yang hadir. Mereka menilai bahwa langkah SMA Negeri 1 Mijen Demak mengemas kolaborasi antarsekolah lewat media film adalah terobosan yang segar. “Kami melihat anak-anak menjadi begitu kritis dan bersemangat saat membedah film ini. Belajar mengasah tekad dan mempererat hubungan antarsekolah bisa dilakukan dengan cara yang sangat menyenangkan,” ungkap salah satu guru pendamping.
Dampak positif dari kegiatan Movie Day ini langsung terasa pada hari-hari berikutnya. Angka kunjungan harian ke Perpustakaan Widya Wacana Demak bertambah. Banyak siswa yang sebelumnya jarang menginjakkan kaki di perpustakaan, kini mulai rajin datang, baik untuk membaca buku, mengerjakan tugas, atau sekadar menanyakan kapan agenda serupa akan diadakan kembali dengan mengundang lebih banyak teman.
Movie Day telah berhasil membuktikan diri sebagai jembatan yang efektif untuk meruntuhkan dinding pembatas antara siswa dan perpustakaan, sekaligus menjadi ruang diplomasi yang manis antarsekolah. Melalui inovasi sederhana namun kreatif ini, Perpustakaan Widya Wacana SMA Negeri 1 Mijen Demak tidak lagi dipandang sebagai tempat yang membosankan, melainkan telah bertransformasi menjadi jantung sekolah yang hidup. Sebuah ruang di mana imajinasi tumbuh, pengetahuan dirayakan, dan kebersamaan seluruh warga sekolah terjalin dengan erat. (WIWA 26)




